![]() |
Foto : Bedug dan Kentongan jaman dulu |
CILEGON, KBN.Com – Di tengah deru kemajuan teknologi, tak banyak yang mengingat bagaimana masyarakat Indonesia, khususnya di desa-desa seperti Pabean, Cilegon, merayakan Idul Fitri pada tahun 1980-an.
Saat itu, informasi tentang kapan Idul Fitri tiba tidak datang dari ponsel pintar atau pemberitahuan media sosial. Sebagai gantinya, suara bedug yang menggema di pagi hari menjadi penanda yang tak tergantikan.
Di Desa Pabean, yang kini dikenal sebagai Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, Banten, tradisi menyambut Idul Fitri dengan bedug adalah ritual yang sarat makna.
Bedug bukan hanya sekadar alat, melainkan penghubung antara warga dan semangat kolektif yang menggetarkan. Suara yang memecah keheningan pagi itu adalah simbol kebersamaan, kemenangan, dan harapan.
Di masa itu, ketika sidang isbat menentukan hari Idul Fitri, kabar tersebut tidak bisa langsung diakses melalui saluran digital. Sebagai gantinya, masyarakat menggantungkan harapan pada dentang bedug yang dipukul dengan penuh semangat.
Bedug pertama kali dipukul di pusatnya di Grogol, dan suara itu mulai menyebar, diteruskan dari satu titik ke titik lain, hingga mencapai Pabean.
"Suara bedug ini bukan hanya tanda, tapi juga membawa pesan yang menggerakkan kami untuk segera pulang. Sumur Menjangan, Kubang Wates, hingga Pabean adalah jalur yang dilalui dentang bedug itu, dari subuh hingga malam sekitar pukul 20.00 WIB," ungkap Bapak Samin, sesepuh di Pabean, mengenang momen bersejarah itu pada Sabtu malam (29 Maret 2025).
![]() |
Foto : Sawah Petani Kang Marjawi |
Dengan langkah cepat, mereka bergegas pulang, menyiapkan diri untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Bedug, lebih dari sekadar alat, menjadi simbol yang menyatukan seluruh warga dalam satu rasa kebersamaan.
"Mereka pun mulai bersiap-siap untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa," lanjut Samin.
Bedug itu mengingatkan mereka akan pentingnya hari kemenangan yang telah mereka perjuangkan melalui keikhlasan berpuasa.
Namun, bedug bukan sekadar dentang yang terdengar. Ia adalah suara yang menggema dalam jiwa. Bedug menciptakan ikatan sosial yang kuat. Bahkan sehari sebelum Idul Fitri, rangkaian bedug yang dikenal dengan sebutan bebedugan mulai terdengar di pagi hari, menandakan persiapan menyambut hari raya.
"Suara bedug ini adalah tanda bahwa umat Muslim telah mempersiapkan diri untuk merayakan Idul Fitri," kata Samin.
Di tengah serba canggihnya dunia digital saat ini, suara bedug yang pernah mengisi udara desa Pabean kini menjadi kenangan yang mengharukan.
Cerita tentang bedug bukan hanya sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga mengingatkan kita akan tradisi yang mampu menyatukan dan menghubungkan setiap individu.
Walau kini teknologi telah mengambil alih, bedug tetap menyimpan cerita sejarah yang tak ternilai harganya. Sejarah yang membentuk perjalanan bangsa ini dengan kekuatan tradisi yang abadi.
(Red*)
إرسال تعليق